08 May 2006
"Isi LoI ini lebih rinci mengenai pasal-pasal yang menyangkut kewajiban-kewajiban atau komitmen-komitmen dari pihak terkait proyek tersebut," ujar Adig Suwandi kepada Bisnis di Surabaya, akhir pekan lalu.
Dia menyebutkan keterlibatan PTPN XIII dalam proyek tersebut terkait rencana pemanfaatan mesin PG Pelaihari, Kalimantan Selatan milik BUMN tersebut yang kini tidak terpakai, sedang Perum Perhutani terkait dengan pemanfaatan lahan hutan seluas 5.000 hektare untuk tanaman tebu dengan sistem bagi hasil.
Sementara calon investor yang terlibat adalah PT Mitra Tani Sejahtera (MTS) dan petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) pimpinan Arum Sabil.
Pihak perbankan yang siap mem-back up proyek tesebut sesuai MoU adalah Bank BRI. Sofyan Basyir, Dirut BRI saat itu menyatakan siap mendukung pendanaan hingga sekitar Rp400 miliar.
Adig juga menyebutkan sejalan dengan itu saat ini PTPN XI juga sedang mempersiapkan kaji ulang (up date) terhadap hasil feasibility study (FS) 1976 untuk menyesuaikan dengan perkembangan terakhir. "Izin prinsip dari kantor Kementerian Negara BUMN sudah turun beberapa pekan lalu."
Pendirian PG baru di desa Seneporejo, Kec. Pesanggaran itu, kata Putut, akan ditangani oleh anak perusahaan. "Untuk pembentukan anak perusahaan akan dilakukan menyusul setelah LoI ini."
Pembangunan PG baru di Banyuwangi dengan kapasitas 5.000 ton tebu per hari termasuk proyek yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat.
Hal itu terungkap dalam pertemuan yang dilakukan pihak terkait dengan sejumlah pejabat Pemkab Banyuwangi, pimpinan DPRD, wakil masyarakat di seputar lokasi proyek akhir Maret lalu.
© Inacom. All Rights Reserved.