08 Jan 2016
Direktur Jenderal (Dirjen) Bea Cukai, Heru Pambudi mengakui realisasi bea keluar di 2015 memang lebih rendah dibanding beberapa tahun sebelumnya. Contohnya, di 2011 realisasi bea keluar tercatat Rp 28,8 triliun, 2012 sebesar Rp 21,2 triliun, di 2013 sebesar Rp 15,8 triliun dan 2014 sebesar Rp 11,3 triliun.
Sedangkan untuk tahun ini, target bea keluar ditetapkan lebih rendah lagi yaitu hanya Rp 2,9 triliun. Target bea keluar tahun ini lebih rendah karena pengaruh dari harga crude palm oil (CPO) yang sedang turun.
Sesuai dengan aturan, bila harga di bawah US$ 750 per metrik ton, maka ekspor CPO tidak bisa dipungut bea keluar.
"Karena tren harga minyak terus menurun, maka pemerintah perkirakan harga CPO juga akan masih tidak bergerak tinggi. Maka target 2016 bea keluar Rp 2,9 triliun," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat DJBC, Jakarta, Jumat (8/1)
Selama ini, Heru menjelaskan, CPO menjadi komoditas ekspor penyumbang bea keluar terbesar. Jika harga internasional tidak mendukung, maka efeknya cukup besar terhadap penerimaan bea keluar.
Selain itu untuk komoditas mineral dan batubara, sektor ini juga sulit diharapkan seiring dengan belum optimalnya hasil pengolahan yang direncanakan sebelumnya. Apalagi proses pembangunan smelter yang meningkat justru mengurangi tarif yang dikenakan kepada perusahaan.
"Kondisi ini mengakibatkan potensi kehilangan penerimaan bea keluar sebesar Rp 8,1 triliun," tukasnya. (dtf)
© Inacom. All Rights Reserved.